Perjalanan Wanita dalam Skena Musik Rock di Indonesia

Trinita Tampubolon   25 Apr 2022 | 09:49
Rekomendasi Buku/Film / Perjalanan Wanita dalam Skena Musik Rock di Indonesia
...
Sumber gambar: superlive.id

Berbicara musik rock umunya dibayangan orang adalah genre musik yang didominasi oleh kaum adam. Musik rock yang dikemas dengan suara gahar distorsi dan ketukan instrumen yang cepat menimbulkan citra yang garang serta identik dengan maskulinitas. Citra musik rock yang demikian serta hegemoni kaum adam dalam skena musik rock tidak dapat dipungkiri membuat posisi wanita agak sedikit terpingirkan sehingga rata-rata masih banyak yang beropini bahwa wanita yang menyukai musik rock adalah kaum wanita yang memiliki idealis yang keras dan jiwa pemberontak. 

Perjalanan wanita dalam musik sebetulnya bukanlah perjuangan yang singkat dan mudah. Di era 1960-an tepatnya dibawah kepemimpinan Soekarno, seperti yang kita ketahui bersama bahwa musik rock merupakan sesuatu hal yang “haram” untuk dimainkan. Musik “ngak ngik ngok” demikian Soekarno menyebutnya, dianggap hedonisme yang dapat melunturkan identitas bangsa. 

Namun hal tersebut tidak berlaku bagi grup musik wanita asal Jawa Timur, Dara Puspita. Terinspirasi dari The Beatles dan Rolling Stone, grup musik yang beranggotakan empat wanita ini justru tidak gentar berkespresi dan berkarya dalam skena musik rock walaupun kerap kali dilarang tampil di Tanah Air. Kiprah Dara Puspita justru semakin besar sampai mereka pada akhirnya berhasil tur keliling Eropa. Grup musik Dara Puspita inilah yang dianggap sebagai tonggak awal lahirnya peradaban musik wanita pertama di Indonesia yang selanjutnya melahirkan banyak musisi-musisi wanita legend di Indonesia.  

Perjalanan wanita dan musik rock tidak hanya berhenti sampai disitu saja. Jika musisi luar punya penyanyi musik rock blues bernama Janis Joplin, maka Indonesia sendiri pernah memiliki lady rocker pertama bernama Sylvia Saartje atau dikenal dengan julukan Jippi yang berasal dari Malang. Kiprahnya di dunia rock bersinar di pertengahan tahun 70-an. Saat itu ia kerap tampil di panggung-panggung rock dengan membawakan lagu-lagu rock dari Janis Joplin sampai Pink Floyd. 

Bukan hanya itu, pada dekade 1980 hingga 1990-an Indonesia juga pernah memiliki srikandi musik rock yang sangat berjaya. Sebut saja Nike Ardila, pelantun hits Bintang Kehidupan yang berhasil menembus penjualan 2 juta copy pada masa itu. Bahkan sampai saat ini karya tersebut masih digadang-gadang sebagai salah satu masterpiece negeri ini. Masih banyak sederet nama musisi wanita yang berkecimpung di dunia musik rock seperti Reni Jayusma, Nicy Astria, Anggun dan masih banyak lagi. Namun sayangnya memasuki era 2000-an seiring mulai suburnya genre lain seperti pop, musik rock seakan-akan mulai kehilangan pamornya diiringi redupnya karir musisi-musisi rock wanita yang sempat berjaya.

Di era digitalisasi seperti saat ini dengan dukungan kemudahan akses informasi dan media belajar yang beragam, setiap orang dengan mudah dapat mempelajari sesuatu baik melalui YouTube ataupun media sosial lainnya. Hal inilah yang pada akhirnya banyak melahirkan musisi-musisi baru yang berkesperimen dengan bermacam genre. Tidak terkecuali di kancah musik rock. 

Saat ini banyak wanita yang berkecimpung di dunia musik dan ikut meramaikan skena musik rock di Indonesia. Salah satunya yang sedang hangat menjadi perbincangan adalah band asal Garut, Voice of Baceprot. Grup band yang terdiri dari tiga personil wanita ini baru saja menghebohkan masyarakat Indonesia karena berhasil tur Eropa. Mereka bukan hanya mematahkan stigma bahwa musik rock bukan hanya untuk kaum pria tetapi mereka juga membawa misi penting yaitu tentang harapan para perempuan yang masih memperjuangkan kemerdekaan mereka di tengah budaya patriarki. 

Contoh di atas mungkin hanya sebagian kecil dari bukti kalau perempuan dapat berkarya dengan bebas dan mengekspresikan dirinya melalui musik yang selama ini identik dengan dunia laki-laki. Patut diingat adalah, musik bersifat universal yang artinya tidak mengenal batasan gender, umur, bangsa dan identitas budaya manapun sehingga setiap orang memiliki kebebasan berkreasi dan berkarya sesuai kemampuan dirinya. Musik rock di Indonesia mungkin saat ini masih perlahan-lahan bangkit mengejar ketenarannya seperti era dekade tahun 70 hingga 90-an. 

Namun satu yang pasti, saat ini musik rock dan wanita bukan merupakan hal yang tabu lagi. Bahkan banyak generasi-generasi muda mulai dari anak-anak hingga wanita dewasa mulai terbiasa memainkan alat musik dengan genre rock. Tentu ini harus disambut dengan baik mengingat stigma yang kuat dimasyarakat bahwa musik rock hanya untuk kaum pria harus bisa dipatahkan.

Sehingga dengan keterlibatan wanita dalam skena musik rock kelak juga bisa membuktikan bahwa genre musik rock adalah wadah berkreasi untuk semua gender tanpa terkecuali. Selain itu, dengan banyaknya wanita yang terjun ke dunia permusikan Tanah Air, maka semakin banyak pula wanita yang dapat membawa misi penting atau menyebarkan pesan dalam sebuah karyanya kepada khalayak umum. 



Bagikan:  
Komentar
0 Komentar