In Middle of The Blackhole: Membunuh Tanpa Menyentuh

Dwi Yuniarkasih   27 May 2022 | 12:53
Rekomendasi Buku/Film / In Middle of The Blackhole: Membunuh Tanpa Menyentuh
...
Sumber gambar: viddsee.com

Drama mini yang mengangkat sebuah kisah broken home tidak selamanya mengenai perpisahan orangtua. Namun juga hidup di dalam keluarga yang selalu mematahkan semangat hidup anaknya sendiri. 

Film pendek yang disutradari oleh Daniel Victory dengan durasi 21 menit 8 detik ini menceritkan seorang anak laki-laki yang bernama Willy dengan kepribadian individu yang kesepian. Ibunya terus-menerus menelepon untuk mengeluhkan fakta bahwa ia berbeda dari kakak laki-lakinya yang bernama Ian dan Tommy. Ia juga terus menerus menerima keluhan keras dari gurunya di sekolah. Dia hanya merasakan kebahagiaan selama beberapa malam namun rutinitas kemarahan dan kesepian pun terus berlanjut.

Kisah ini di awali dengan dering alarm ponsel yang membangunkan Willy dari tidur nyenyaknya. Bukan suara indah atau ucapan selamat pagi yang ia terima, justru omelan dan bandingan antara Willy dan kedua kakaknya. Hal ini membuat Willy merasa tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas di hari pertama ia bersekolah. Dilanjut dengan kebiasaan pagi yang selalu menyiapkan keperluan sekolah, hingga sarapan dilakukan oleh asisten rumah tangga tanpa adanya sosok seorang ibu.

Willy di sekolah hanya melamun enggan berbicara, dan tidak mengerjakan tugas. Alhasil, tingkah Willy membuat sebagian guru naik pitam dan mempermasalahkan tingkah Willy yang tidak patut itu. Tanpa menanyakan ada apa dan kenapa Willy bersikap seperti itu, justru guru malah menambah amarah seperti yang dilakukan ibunya.

Dengan tekanan yang terus menerus menghantam Willy, ia pun memberontak pergi dari keluar kelas dan seharian tidak menjawab telpon ibunya. Baiknya, Willy tidak melakukan hal yang terlarang, ia hanya melakukan kebiasaan seperti bermain game, baca komik hingga terpingkal-pingkal, makan di dalam kamar dan menonton anime kesukaannya.

Sayangnya, sikap Willy hari itu malah jadi boomerang dahsyat untuknya. Ibunya yang malu mempunyai anak seperti Willy karena telah bersikap kurang ajar di sekolah hinga dilanjutkan oleh guru Willy yang menggeretak meja dan membawa fakta kedua kakaknya yang berprestasi untuk dibandingkan dengan Willy. Hal ini tentu membuat Willy akhirnya berteriak dan berbicara tentang apa yang terjadi dalam hidupnya.

Film pendek produksi Annisa Nanda Fitri ini relate dengan persoalan keluarga masa kini. Bahwa dukungan dari orangtua sangat dibutuhkan untuk perkembangan psikis anaknya. Dengan tampilan hitam putih, film ini sukses mengibarkan prestasi dalam festival dan awards diantaranya: Official Selection Marquee on Main (North Caroline), Official Selection Festcil 2017, Official Selection Brawijaya Movie Exhibition, dan Official Selection Sewon Screening

Cuplikan yang disajikan dalam film ini berkaitan erat dengan kehidupan bahwa nyatanya pendidikan mengenai tata cara merawat dan mendidik anak perlu ditingkatkan agar menghindari adanya bad parenting. Drama mini ini pun mengajarkan pada penonton untuk menghargai kehidupan manusia terutama jiwanya. Apabila jiwa itu menderita, ia tidak lagi menjadi manusia seutuhnya. Bantulah mereka yang mengidap depresi tersebut, karena jika kita (orang sekitarnya) bisa membantu sama saja kita telah berhasil menyelamatkan manusia (jiwa) tersebut. Agar bisa melakukan kebebasan dan memperoleh kehidupan yang lebih berwarna dengan apa yang ia dambakan semasa kecil hingga dewasa kelak.



Bagikan:  
Komentar
0 Komentar