Cinta Pandangan Pertama, Cinta Sesungguhnya?

Roma Prisilia   04 Jun 2022 | 11:01
Review Peraturan / Cinta Pandangan Pertama, Cinta Sesungguhnya?
...
Sumber gambar: vectorstock.com

“kurasa ku ku t’lah jatuh cinta, pada pandangan yang pertama, sulit bagiku untuk bisa, berhenti mengagumi dirinya”. Itulah sepenggal lirik lagu Pandangan Pertama dari RAN. Mengapa kita bisa merasakan cinta pada pandangan pertama dan apakah cinta pada pandangan pertama benar-benar cinta?

Florian Zsok dan rekan-rekannya melakukan penelitian mengenai tentang jenis "cinta" apa yang terjadi pada cinta pada pandangan pertama. Penelitian tersebut menemukan bahwa cinta pada pandangan pertama bukan termasuk gairah, rasa keintiman, atau komitmen yang tinggi, tetapi masuk ke dalam kategori keterarikan fisik. 

Jadi, “cinta” pada love at first sight bukanlah cinta, namun lebih tepat dicirikan sebagai daya tarik yang kuat yang terjadi saat pertama bertemu atau saat mengingat kembali memori. 

Zsok, dkk menyimpulkan beberapa orang benar-benar merasakan “cinta pada pandangan pertama” saat pertama bertemu atau saat mengingat kembali memori bertemu. 

Namun, cinta pada pandangan pertama tidak melibatan cinta yang sebenarnya,  tetapi gairah yang seringkali disertai dengan keingin untuk memulai hubungan. Mereka yang pernah mengalami cinta pada pandangan pertama juga tampaknya memiliki lebih banyak cinta dan gairah dalam sebuah hubungan. 

Penelitian lain menemukan bahwa cinta pada pandangan pertama melibatkan rasa ketertarikan yang sama baik secara visual maupun kepribadian diawal bertemu. James A. Grant-Jacob dalam “Love at First Sight” berpendapat bahwa karena rasa ketertarikan yang sama, orang dapat menjadi terikat secara emosional pada pandangan pertama. 

Grant-Jacob menjelaskan bahwa karena kebanyakan orang tertarik pada orang lain yang mereka pikir dapat mereka percayai, dan orang-orang seperti itu sering kali memiliki kepribadian yang serupa, orang-orang tertarik pada orang lain yang terlihat serupa, karena mereka dianggap memiliki kepribadian yang serupa. 

Peneliti lain menemukan bahwa pasangan yang jatuh cinta pada pandangan pertama memasuki hubungan romantis lebih cepat. Namun, mereka tidak memiliki semua ciri kepribadian yang sama, tetapi mereka juga tidak mengalami kualitas hubungan yang lebih rendah.

Selain itu, kita sering kali sulit membedakan cinta dengan gairah, di mana gairah melibatkan perasaan ketertarikan yang intens untuk seseorang tanpa mengenalnya dengan baik, biasanya dengan mengabaikan red flags demi fantasi.

Orang yang mencari cinta mungkin lebih condong ke perasaan awal yang intens, menurut Henry. "Yang paling penting adalah keinginan untuk cinta," jelasnya. "Bersikap terbuka untuk cinta dan bersedia untuk terlibat dalam hubungan cinta kemudian menciptakan ruang untuk 'cinta pada pandangan pertama.'"

Terakhir, ada kemungkinan bahwa beberapa pasangan bahagia secara retroaktif menghiasi cerita tentang bagaimana mereka bertemu, menerapkan perasaan cinta mereka saat ini ke ingatan mereka di masa lalu. Menganggap seperti mengingat pertemuan pertama mereka sangat indah.

Pada akhirnya, ketika hubungan dimulai karena ketertarikan, kita bisa menumbuhkan rasa cinta dengan rasa hormat, kebaikan, dan kepercayaan. Dengan cara ini, kita dapat memaksimalkan pengalaman cinta pada pandangan pertama berkembang menjadi cinta abadi.



Bagikan:  
Komentar
0 Komentar