Bagaimana Sebenarnya Agresi Perempuan kepada Sesama Perempuan?

Irene Prihatiningsih   27 Apr 2022 | 18:12
Review Peraturan / Bagaimana Sebenarnya Agresi Perempuan kepada Sesama Perempuan?
...
Sumber gambar: BetaSeries.com

Ketika saya membaca berita atau gosip di sosial media tentang perempuan yang sedang mengalami masalah atau konflik, seringkali saya mendapati kolom komentar yang penuh dengan hujatan yang ditulis oleh perempuan.  

Sebut saja ketika mendiang Vanessa Angel tersandung skandal beberapa tahun yang lalu, banyak perempuan yang kemudian memberondong kolom komentar akun gosip dan memberikan komentar yang kasar dan menyudutkan, herannya walau kasus tersebut sudah selesai, kata ‘80jt’ masih dikirimkan ke kolom komentar media sosial mendiang.

Tak jarang selebriti cantik yang sebenarnya tidak sedang berkonflik turut mendapat hujatan hanya karena berpenampilan menarik. 

Agresi antar perempuan juga turut saya lihat secara dekat sejak saya remaja (SMP dan SMA). Saya sering mendapati perselisihan antar perempuan, bisa dalam grup atau individu. Dalam hal ini mereka sering menyebarkan narasi buruk, melabrak, atau body shaming ke perempuan yang berkonflik dengan mereka. Jujur sayapun pernah bergosip tentang perempuan dengan info yang belum jelas dimana hingga saat ini saya masih sesali. 

Fenomena Kultural I’m Not Like Other Girls, Pick Me Girl, Cool Girl atau One of The Guys juga turut menjadi contoh bagaimana perempuan menspesifikasikan diri dari perempuan lain; biasanya perempuan yang termasuk dalam I’m Not Like Other Girls dan sejenisnya akan menolak hal-hal berbau feminim seperti  warna pink, make-up, diet, atau berteman dengan perempuan. Bahkan mereka juga tak segan menjatuhkan perempuan lain agar mereka terlihat lebih menarik, khususnya di mata laki-laki. Fenomena ini sebenarnya termasuk dalam ‘fase’ yang dialami remaja dan dapat betahan hingga dewasa.

Ada pandangan ‘semakin cantik perempuan, akan semakin mudah dia dimusuhi oleh perempuan lain’, salah satu penelitian yang dilakukan oleh T. Vaillancourt dan A. Sharma di Universitas McMaster membuktikan pandangan tersebut. Penelitian melibatkan beberapa mahasiswi yang dikumpulkan di suatu laboratorium dengan pengalihan seminar, lalu muncul perempuan yang memenuhi standar kecantikan dengan baju yang ketat dan terbuka, terekam beberapa reaksi dari beberapa mahasiswi seperti memandang dari atas sampai kebawah, wajah yang marah, hingga bertanya dengan kalimat yang negatif. Reaksi paling jelas adalah ketika perempuan itu keluar dari ruangan banyak mahasiswi yang tertawa dan mengolok-olok perempuan tersebut. Beberapa komentar negatif juga turut dilontarkan oleh beberapa mahasiswi, terutama komentar tentang pakaian dan fisik dari perempuan tadi. 

Penelitian tersebut juga menunjukan jika penindasan atas seksualitas perempuan paling banyak dilakukan oleh sesama perempuan, stigma negatif atau slut-shaming juga lebih sering dilakukan oleh perempuan.

Namun sebenarnya “kenapa banyak perempuan memusuhi sesama perempuan?”

Manusia pada dasarnya suka berkompetisi, baik perempuan atau laki-laki.  Perempuan memiliki cara dan motif yang berbeda dalam berkompetisi, menurut Elizabeth Wagele “Female competition tends be more subtle, indirect, and less violent than the male variety” (Wagele, 2014), dia menjelaskan jika kompetisi antar perempuan cenderung lebih halus, tidak terlalu ketara, dan tidak sekasar laki-laki. Menurut Tracy Vaillancourt (2013) yang dikutip dalam The New York Times, salah satu yang mendorong perempuan menjatuhkan perempuan lain adalah self-promotion (membuat mereka lebih terlihat menarik).

Salah satu faktor terbesar dalam kompetisi antar perempuan adalah patriarki. Menurut Noam Shpancer dalam Psychology Today, “As women come to consider being prized by men their ultimate source of strength, worth, achievement and identity, they are compelled to battle other women for the prize.”, atau perempuan berpikir jika ‘dihargai’ oleh laki-laki adalah salah satu pencapaian, harga diri, atau identitas bagi mereka, dimana mereka rela memusuhi perempuan lain demi mencapai nilai-nilai tersebut. Singkatnya nilai dari perempuan tersebut terikat pada pandangan laki-laki. 

Padahal sebagai perempuan, kita memiliki nilai yang tidak terikat pandangan orang lain. Dimulai dengan menghargai diri sendiri dan menerima segala kekurangan yang kita miliki, menanamkan mindset jika segala kekurangan kita bukan menjadi hal yang menurunkan nilai kita. Kita sendiri yang menentukan bahwa kita bernilai. Oleh karena itu, menghargai sesama perempuan adalah hal yang wajib dilakukan. 

Sebagai perempuan, selaiknya kita turut bahagia ketika perempuan lain mencapai sesuatu bukan menaruh rasa iri dan kemudian mencoba bersaing. Sebagai sesama perempuan kita memiliki strugle yang mirip, dan hanya kita yang dapat mengatasi serta menemukan jalan keluarnya. 

"Relationships with other women are sacred and necessary." - Cat Lady (Dolface).



Bagikan:  
Komentar
1 Komentar
ANGELA HOLDEN
udamaada@gmail.com
Saya sangat gembira hari ini bersama keluarga saya. Nama saya Angela, tinggal di Amerika Syarikat, Suami saya meninggalkan saya selama satu tahun, dan saya sangat menyayanginya, saya telah mencari jalan untuk mendapatkannya kembali sejak itu. Saya telah mencuba banyak pilihan tetapi tidak berjaya sehinggalah saya berjumpa dengan seorang rakan yang memperkenalkan saya kepada Dr UDAMA, seorang tukang sihir yang membantu saya membawa balik suami saya selepas 2 hari. Saya dan suami hidup bahagia bersama hari ini kerana mengikut arahan Dr UDAMA yang hebat. Lelaki itu hebat, anda boleh menghubunginya melalui Email : (udamaada@gmail.com). dan nombor hubungan terus dan whatsappnya ialah ( +27658978226 ) Sekarang saya akan menasihati mana-mana orang yang serius yang mendapati diri mereka dalam masalah seperti ini untuk menghubunginya sekarang penyelesaian yang cepat tanpa tekanan..