50:50, Lihat Lebih Dekat Waria Tua dan Inspiratif

Dwi Yuniarkasih   24 May 2022 | 21:22
Rekomendasi Buku/Film / 50:50, Lihat Lebih Dekat Waria Tua dan Inspiratif
...
Sumber gambar: Twitter

Sebagian orang takut menghadapi tua, wanita sering takut kehilangan kecantikan, pria takut kehilangan kekuatannya, dan keduanya takut menghadapi hal lain ketika mereka menjadi tua. Lalu, yang Dona rasakan bagi seorang waria tua ialah kombinasi antara dua hal tersebut. Film pendek Indonesia yang di sutradari oleh Rofie Nur Fauzie ini menampilkan realita kehidupan Dona dalam menjalani masa tua sebagai seorang waria di sebuah rumah singgah.

Dilansir dari BBC News Indonesia, keberadaan rumah singgah berada di Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat yang dikelola oleh Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia yang bernama Yulianus Rettblaut (Mak Yuli). Menurut penuturan Mak Yuli, dahulu rumah singgah ini bisa mendampingi 831 transpuan berusia sekitar 50-90 tahun yang kebanyakan mereka bekerja sebagai pengamen, tukang urut, dan pekerja salon. Namun, kini rumah singah hanya berisi 18 transpuan dengan keahlian memasak, membuat kue-kue, menjahit bahkan ada pula yang belum menemukan keahliannya, tutur Mak Dona.

Rumah singgah ini didirikan berawal dari transpuan yang melapor bahwa mereka telah dianiaya oleh mami-mami dari komunitas sebelumnya. Dengan berjalannya waktu Mak Yuli dan Mak Dona mencoba mengumpulkan sedikit uang untuk membeli tanah. Setelah rumah itu terbentuk awalnya digunakan sebagai tempat tinggal biasa namun karena banyak persoalan transpuan yang mengalami kendala-kendala yang rumit akibat tidak memiliki identitas akhirnya rumah tersebut dijadikan tempat untuk berkumpul.

Bahkan, dilansir dari voaindonesia.com, transpuan di Indonesia sulit mendapat akses layanan publik dan bantuan dari pemerintah akibat e-KTP dalam perubahan gender dalam hukum Indonesia. Bahkan banyak waria di bawah garis kemiskinan, apabila ingin mendapat layanan publik secara lancar maka mereka harus membuktikan pria atau wanita melalui pengadilan.

Film yang diproduksi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung ini menceritakan Mak Dona yang bernama asli Edo Kusuma menjadi ibu sekaligus teman untuk para transpuan yang berusaha mempertahankan hidupnya dirumah singgah. Dahulu, Ia bekerja sebagai pemijat disalah satu salon selalu menjadi pusat pendengar untuk para pelanggan transpuan baik dalam percintaan, penganiayaan hingga keluhan bagi yang memiliki keluarga. Mak Dona juga dikenal seorang waria dengan paras yang menawan, Ia juga memiliki hubungan dengan seorang preman, namun naas kisah cintanya berakhir ketika sang pujaan hati mati ditembak, dan diasingkan bahkan di buang ke Bantar Gebang akibat fitnah demo pada zaman tersebut. 

Kejadian itu membuat Mak Dona tersadar bahwa orang yang membuat ia merasa dihargai dan disayangi itu menghilang, ia memutuskan untuk mengadopsi anak. Mak Dona berpikir bahwa mengadopsi anak adalah keputusan yang tepat agar kelak anak adopsi yang terlantar tersebut tidak sepertinya dan juga bisa menjadi  pegangan atau patokan para transpuan untuk tetap hidup. 

Dikutip dari Viddsee.com, film dokumenter ini meraih penghargaan Indonesia Film Festival (2019) dan Silver Award Juree Indonesia (2020). Karya film ini pun mengajarkan bahwa perbedaan bukan untuk dijauhi melainkan untuk dihargai. Apabila tidak menyukainya cukup biarkan atau jangan dikorek-korek apalagi dirusak. Karena kita tidak pernah tau perjuangan hidup seseorang untuk bertahan sampai saat ini.



Bagikan:  
Komentar
0 Komentar